Minggu, 15 juli 2018
Seperti biasanya dan selalu... Aku menjadi yang bersalah dan disalahkan... Bukannya aku tidak mau disalahkan... Karena memang perkataanku tidak pernah dihiraukan... Rasanya percuma, hanya menghabiskan tenaga. Aku membiarkan tp tetap saja aku salah lagi dan lagi. Aku todak suka disalahkan atas apa yang memang bukan aku yang salah... Namun membenarkanpun hanya membuat emosiku meluap lalu menimbulkan rasa benciku yang sudah ku pendam dalam-dalam. Mencoba bertahan tidak menghiraukannya bersama sesak di dada, bertalu-talu dan aku menyadari rasa basah dipipi menandakan bahwa aku tidak sekuat itu untuk bertahan.
Sekarang... Aku mencoba untuk membenarkan segala yang mereka pikirkan mengenai diriku... Aku mencoba siap untuk mendapatkan nilai terburuk mereka mengenaiku. Aku mencoba siap dinilai buruk oleh mereka tanpa aku memberikan pembelaan mengenai nilai mereka tentangku yang salah... Aku akan mencoba mengabaikannya dan meneguhkan hatiku untuk hujatan yang akan aku terima setiap waktunya. Aku mencoba untuk tidak perduli, karena aku sudah terlalu lelah membela diriku dan aku tidak mengharapkan ada yang membela diriku. Karena mengharap itu melelahkan....
STORY
Dunia Tanpa Suara
bintang
Minggu, 15 Juli 2018
Rabu, 04 Juli 2018
Pos(t) Terlambat
Rabu, 4 juli 2018
Berapa milyar detik aku menantikannya pun tak juga datang.... Jangankan detik, menit bahkan jam dan tahunpun aku mulai enggan lagi menghitung, sudah berapa lama aku menunggu? Menunggu yang benar-benar menunggu semenjak malam pertemuan itu?. Cerita berkisah, detik berlalu, kehidupanku mulai terasa sedikit usang dan lembap. Tidak ada lagi lembaran kisah kutulis karena memang tidak ada lagi hal menarik yang perlu kutulis, semua sama, yang kulalui sama, yang kuhadapi berulang-ulang sama. Bahkan yang kukerjakanpun sama. . . . Sama. . . . Sama. . . . .
Berapa milyar detik aku menantikannya pun tak juga datang.... Jangankan detik, menit bahkan jam dan tahunpun aku mulai enggan lagi menghitung, sudah berapa lama aku menunggu? Menunggu yang benar-benar menunggu semenjak malam pertemuan itu?. Cerita berkisah, detik berlalu, kehidupanku mulai terasa sedikit usang dan lembap. Tidak ada lagi lembaran kisah kutulis karena memang tidak ada lagi hal menarik yang perlu kutulis, semua sama, yang kulalui sama, yang kuhadapi berulang-ulang sama. Bahkan yang kukerjakanpun sama. . . . Sama. . . . Sama. . . . .
Minggu, 05 Juni 2016
Pertemuan
Senin, 6 Juni 2014. Delapan hari sudah pertemuan itu berlalu ketika hujan datang semenjak sore hingga petang menjelang. Tidak hanya hujan menerpa, anginpun ikut perpartisipasi meramaikan sore kala itu dan tak tertinggal pula arus listrik di dusunku padam semenjak sore sesaat setelah angin lumayan besar berhembus membawa butiran air dari arah barat. Malam itu, ku kira hanya tamu biasa yang datang untuk menjahitkan baju dengan jasa ibuku yang seorang penjahit. Namun lama-lama akupun penasaran siapa geragan yang datang saat suara perempuan memanggil orang lain dengan sebutan "Bang". Entahlah rasa penasaranku datang begitu saja saat panggilan itu tertangkap oleh indera pendengaranku.
Saat itu aku berpikir betapa ganjennya aku saat rasa penasaranku menyeruak ketika panggilan untuk seorang lelaki terdengar dari arah ruang tamu yang gelap. Berbekal rasa penasaran itu, akupun memberanikan diri untuk keluar dari kamarku yang gelap hanya bercahayakan cahaya layar handphone yang ku pegang karena memang dirumahku tidak memiliki lampu baterai, yang kami punya hanyalah sebuah lentera atau yang biasa didusun kami sebut dengan sebutan "ceplik" yang terbuat dari botol kaca kecil berisikan sumbu dengan minyak tanah. meskipun ini jaman moderen tapi alat penerangan kuno itu masih ada dan kadang sangat dibutuhkan saat ada acara tertentu untuk pelengkap tradisi di dusun kami seperti penerangan saat nduduk lemah atau menggali tanah untuk membuat bangunan dan untuk penerangan yang diletakkan di bawah ranjang tempat bayi yang baru lahir.
Akupun keluar dari kamar dan melihat ada apa dan siapa yang tengah berbincang-bincang, dan ternyata dia, salah satu guru teman adik ibuku aka omku yang berasal dari daerah kaki bukit, lumayan jauh dari rumahku sekitar 45 menit perjalanan. Aku lupa namanya siapa yang pasti dia adalah langganan menjahit di tempat ibuku. Kukira dia datang sendiri karena awalnya aku bingung karena ada mobil berwarnya krem terparkir di depan rumahku, diatas jalan batako yang semit. maklu saja karena rumahku berada di dalam gang yang sempit, hanya pas-pasan untuk jalan kendaraan beroda empat itu. Setelah aku tengok ternyata dia bersama keluarganya untuk menjahitkan seragan pernikahan keluarganya setelah lebaran ini.
Aku hanya melihat sesaat kearah ruang tamu dan melihat dua orang wanita yang salah satunya itu guru teman omku dan sedang berbicara dengan seorang ibu-ibu yang masih berada dalam mobil. Aku bertanya-tanya dalam hati "kenapa beliau tidak turun saja agar tidak usah berbicara dengan lebih keras hanya untuk menjawab pertanyaan, apa lagi ini sudah waktunya shalat Maghrib. Apa karena hujan beliau tidak mau turun, ah mungkin saja karena itu, apalagi angin berhembus terasa sangat dingin malam ini" tidak kuat lagi dengan angin yang menusuk akupun pergi kearah belakang rumah mencari jaketku dan bersiap untuk menyiapkan minuman hangat untuk mereka. Berjalan sendiri diantara gelapnya rumah ditambah dingin yang menusuk membuat fantasi itu terbentuk dalam pikirankau." seperti cerita horor" gumamku dalam hati dan akupun tersenyum kecil menanggapi pikiranku yang konyol itu.
"Gulanya habis" kataku pada diriku sendiri. saat hendak keluar dari dapur dan ternyata ibukupun dalam perjalanan menuju dapur.
"Bu, gulanya habis" kataku saat berpapasan dengannya.
"Minta dulu kewarung is. Bayarnya nanti saja masih gelap, susah cari uangnya."
"Ya Bu"
Akupun keluar melalui pintu samping rumah.Brr ternyata diluar tambah dingin. akupun semakin mengeratkan jaket yang ku gunakan dan membenarkan kerudung yang kupakai. Saat sampai sepan pintu aku melihat kearah keramaian di depan teras rumahku dan itu membuatku paham kenapa ibu itu tidak ikut turun dan bergabung dengan anak-anaknya. Ternyata beliau tidak mampu untuk berjalan dan sekarang beliau tengah duduk diatas kursi rodanya dan di bantu oleh anak-anaknya dan seorang lelaki yang mungkin dian yang tadi di panggil "bang" untuk menaikkan beliau dan kursi rodanya ke beranda rumahku yang memang lebih tinggi.
Aku hanya bisa memandangnya tanpa bisa membantunya karena aku tidak bisa menyusup diantara mereka yang mengerubungi ibunda tercinta mereka. Setelah mereka berhasil dan masuk ke dalam rumah, akupun melanjutkan jalanku menuju warung depan rumah untuk membeli gula.
"Wo (Bi) Siru, minta gulanya seperempat ya. bayarnya nanti. hehe :)"
" Ya is, itu tamu siapa is?"
"tamu dari Brokoh Wonotunggal wo, mau jahit seragam nikahan"
"Ohh..kirain mau ngapel. ini gulanya"
"hehe.. siwo itu ada-ada aja. ya udah terimakasih wo ya"
"Ya"
akupun langsung kembali kerumah dan menuju dapur untuk membuatkan teh hangat. Saat aku berada di ruang belakang ternyata sudah ramai diisi tamu-tamu tadi untuk memetik air wudhu untuk menjalankan shalat maghrib. Saat itu aku masih berhalangan jadi tidak menjalankan kewajibanku itu. langsung saja aku menuju dapur untuk mempersiapkan gula ke dalam gelas yang sudah kusiapkan tadi sebelum pergi kewarung. Karena gelap dan penerangan dari layar handphoneku yang tidak memadai karena tidak memiliki perangkat senter, maka ku beranikan diri untuk meminjam handphone Bapakku yang tengah berbincang dengan sosok laki-laki itu. ugh.... kenapa harus deg-degan begini sih, seperti orang jatuh cinta saja. ah tapi aku ingat kata dosenku dulu kalau berhadapan dengan lawan jenis itu wajar kalau malu dan harus bangga karena masih memiliki urat malu. hah apalah kata dosenku itu. tapi itu sedikit membantu mengurangi rasa maluku. Akupun melanjutkan jalanku dengan kepala yang memandang fokus kearah Bapakku tanpa ada niat untuk menoleh kearah kanan dimana dia tengah duduk. Untung saja diruang tamu ini masih minim cahaya meskipun sudah diterangi oleh dua senter hanphone jadi dia tidak bisa melihatku dengan jelas. tapu akupun tidak bisa melihatnya juga. huh nasib memang.
Setelah meminjam hanphone akupun melanjutkan membuat minuman dan saat aku meuang air teh yang beruap itu kedalam masing-masing gelas, akupun teringat tidak sekalian membeli camilan, untung saja kakak perempuanku datang dan angsung saja ku mintai bantuan untuk membeli camilan itu. Dengan hati-hati aku menata gelas-gelas hangat itu diatas nampan besar agar dapat menampung tujuh gelas itu dan mengantarkannya ke ruang tamu. Aku bingung akan diletakkan dimana nampan ini karena meja itu ada di pojok. ya jala terakhir aku meletakkannya di meja pojok itu.
Prang...!! suara gelas beradu dengan meja yang terbuat dari kaca sehingga menimbulkan suara seperti gelas pecah mengagetkanku padahal aku belum meletakkannya dan tidak ada gelas dari nampan yang terjatuh saat aku mengangkat lagi nampan yang akan ku letakkan tadi, aku melihat gelas bekas minum kakakku tadi yang masih diatas meja tertidur karena tersenggol oleh nampan yang ingin kuletakkan tadi.
"Pak, tolong ambilkan gelas itu" kataku kepada bapak agar mengambil gelas itu karena tanganku sediri masih penuh dengan nampan. setelah diambil akupun menaruh nampan tersebut kemeja dan mengambil gelas bekas itu dari tangan bapakku.
"Apa ada yang pecah?" tanya suara yang menyela saat aku hendak kembali kebelakang membuatku menelan ludah.
"Tidak" kataku sigkat tanpa menengok setelah menenangkan hatiku yang berdegub, meski suara yang ku keluarkan sedikit serak akibat pilek yang kupunya. setelah menjawab akupun langsug menuju ke arah dapur untuk meletakkan gelas bekas tadi ke sumur. Setelah itu akupun kembali lagi kedepan untuk menggelar karpet karena sofa yang tidak memadai untuk menampung mereka semua karena kakakku yang masih sibuk menata camilan kedalam toples. Jujur saja aku risih dan kurang percaya diri karena ketidak sempurnaanku dengan sangat terpaksa harus terpampang menghadap kearah lelaki itu dan membiarkannya menilai wajahku yang tidak lagi mulus dan cantik seperti dulu. saat itu ingin saja aku bergelung dibawah selimut ksurku dan membenamkan wajahku yang banyak bekas jerawat yang memerah karena obat dokter. Apupun berusaha beracting tenang meskipun banyak spekulasi berkeliaran di otakku mengenai penilaiannya terhadapku. Apakah dia jijik atau bagaimana, entahlah.. hanya saja aku meerasa penilaiannya begitu pentig. tapi aku berusaha menepis itu semua karena aku tidak mengenalnya dan aku tidak dapat melihat bagaimana rupanya.
Ingin sekali aku melihat bagaimana dia tetapi hatiku selalu mengingatkan " Hus isma, jaga matamu. katanya mau berubah?" yah begitulah hatiku meledek tingkahku dan aku luluh akan itu. Dan ya, aku harus istiqomah.
Setelah selesai menata karpet akupun langsung bergelung dengan selimut dan bantalku seperti apa yang kupikirkan tadi.
Saat aku tersadar bahwa suara-suara perbincangan melemah akupun langsung keluar kamar dan mendapati mereka telah bersiap-siap akan pulang, bahkan ibu yang tadipun sudah dinaikkan ke dalam mobil. Betapa aku menghayati lamunanku hingga tidak menyadari mereka telah menghilang dari ruang ramu rumahku. Saat aku keluar dari dalam rumah dan bergabung dengan ibu, bapak dan kakakku di teras rumah, aku melihatnya sudah duduk manis di depan kemudi. Akupun diam-diam merutuki diriku yang membuang kesempatan untuk menatap bagaimana dirinya dan jujur aku menyesali itu, namu hatiku berkata dan mengingatkanku dengan komitmenku mengenai cinta, harapan, dan komitmen. Diapun mulai melajukan kuda besinya meninggalkan beranda rumahku dan entah mengapa aku pandanganku tak henti memandangnya hingga mobil itu hiang dibalik gapura gang rumahku. Akupun merasakan bibir ini melengkungkan sebuah senyuman tipis dan entah darimana hatiku berkata "semoga ada pertemuan lain untuk kita". Dan harapan itupun masih menghinggap setelah delapan hari dari perpisahan itu, meskipun aku tidak tahu bagaimana dia dan bagaimana suaranya. Apakah aku akan mengenalinya saat pertemuan itu terulang kembali. Atau bahkan aku pernah bertemu lagi dengannya tanpa ku ketahui?. Astaghfirullah Hal Adzim... hilangkanlah perasangka itu dari hatiku ya Allah agar tidak menghambat kelangsungan hidupku dan merusak janjiku padaMu untuk merasakan perasaan yang halal.
Jika Engkau menghendaki pertemuan itu kembali, pertemukanlah aku melalui jalan yang Engkau Ridhai.. Amiinn
Saat itu aku berpikir betapa ganjennya aku saat rasa penasaranku menyeruak ketika panggilan untuk seorang lelaki terdengar dari arah ruang tamu yang gelap. Berbekal rasa penasaran itu, akupun memberanikan diri untuk keluar dari kamarku yang gelap hanya bercahayakan cahaya layar handphone yang ku pegang karena memang dirumahku tidak memiliki lampu baterai, yang kami punya hanyalah sebuah lentera atau yang biasa didusun kami sebut dengan sebutan "ceplik" yang terbuat dari botol kaca kecil berisikan sumbu dengan minyak tanah. meskipun ini jaman moderen tapi alat penerangan kuno itu masih ada dan kadang sangat dibutuhkan saat ada acara tertentu untuk pelengkap tradisi di dusun kami seperti penerangan saat nduduk lemah atau menggali tanah untuk membuat bangunan dan untuk penerangan yang diletakkan di bawah ranjang tempat bayi yang baru lahir.
Akupun keluar dari kamar dan melihat ada apa dan siapa yang tengah berbincang-bincang, dan ternyata dia, salah satu guru teman adik ibuku aka omku yang berasal dari daerah kaki bukit, lumayan jauh dari rumahku sekitar 45 menit perjalanan. Aku lupa namanya siapa yang pasti dia adalah langganan menjahit di tempat ibuku. Kukira dia datang sendiri karena awalnya aku bingung karena ada mobil berwarnya krem terparkir di depan rumahku, diatas jalan batako yang semit. maklu saja karena rumahku berada di dalam gang yang sempit, hanya pas-pasan untuk jalan kendaraan beroda empat itu. Setelah aku tengok ternyata dia bersama keluarganya untuk menjahitkan seragan pernikahan keluarganya setelah lebaran ini.
Aku hanya melihat sesaat kearah ruang tamu dan melihat dua orang wanita yang salah satunya itu guru teman omku dan sedang berbicara dengan seorang ibu-ibu yang masih berada dalam mobil. Aku bertanya-tanya dalam hati "kenapa beliau tidak turun saja agar tidak usah berbicara dengan lebih keras hanya untuk menjawab pertanyaan, apa lagi ini sudah waktunya shalat Maghrib. Apa karena hujan beliau tidak mau turun, ah mungkin saja karena itu, apalagi angin berhembus terasa sangat dingin malam ini" tidak kuat lagi dengan angin yang menusuk akupun pergi kearah belakang rumah mencari jaketku dan bersiap untuk menyiapkan minuman hangat untuk mereka. Berjalan sendiri diantara gelapnya rumah ditambah dingin yang menusuk membuat fantasi itu terbentuk dalam pikirankau." seperti cerita horor" gumamku dalam hati dan akupun tersenyum kecil menanggapi pikiranku yang konyol itu.
"Gulanya habis" kataku pada diriku sendiri. saat hendak keluar dari dapur dan ternyata ibukupun dalam perjalanan menuju dapur.
"Bu, gulanya habis" kataku saat berpapasan dengannya.
"Minta dulu kewarung is. Bayarnya nanti saja masih gelap, susah cari uangnya."
"Ya Bu"
Akupun keluar melalui pintu samping rumah.Brr ternyata diluar tambah dingin. akupun semakin mengeratkan jaket yang ku gunakan dan membenarkan kerudung yang kupakai. Saat sampai sepan pintu aku melihat kearah keramaian di depan teras rumahku dan itu membuatku paham kenapa ibu itu tidak ikut turun dan bergabung dengan anak-anaknya. Ternyata beliau tidak mampu untuk berjalan dan sekarang beliau tengah duduk diatas kursi rodanya dan di bantu oleh anak-anaknya dan seorang lelaki yang mungkin dian yang tadi di panggil "bang" untuk menaikkan beliau dan kursi rodanya ke beranda rumahku yang memang lebih tinggi.
Aku hanya bisa memandangnya tanpa bisa membantunya karena aku tidak bisa menyusup diantara mereka yang mengerubungi ibunda tercinta mereka. Setelah mereka berhasil dan masuk ke dalam rumah, akupun melanjutkan jalanku menuju warung depan rumah untuk membeli gula.
"Wo (Bi) Siru, minta gulanya seperempat ya. bayarnya nanti. hehe :)"
" Ya is, itu tamu siapa is?"
"tamu dari Brokoh Wonotunggal wo, mau jahit seragam nikahan"
"Ohh..kirain mau ngapel. ini gulanya"
"hehe.. siwo itu ada-ada aja. ya udah terimakasih wo ya"
"Ya"
akupun langsung kembali kerumah dan menuju dapur untuk membuatkan teh hangat. Saat aku berada di ruang belakang ternyata sudah ramai diisi tamu-tamu tadi untuk memetik air wudhu untuk menjalankan shalat maghrib. Saat itu aku masih berhalangan jadi tidak menjalankan kewajibanku itu. langsung saja aku menuju dapur untuk mempersiapkan gula ke dalam gelas yang sudah kusiapkan tadi sebelum pergi kewarung. Karena gelap dan penerangan dari layar handphoneku yang tidak memadai karena tidak memiliki perangkat senter, maka ku beranikan diri untuk meminjam handphone Bapakku yang tengah berbincang dengan sosok laki-laki itu. ugh.... kenapa harus deg-degan begini sih, seperti orang jatuh cinta saja. ah tapi aku ingat kata dosenku dulu kalau berhadapan dengan lawan jenis itu wajar kalau malu dan harus bangga karena masih memiliki urat malu. hah apalah kata dosenku itu. tapi itu sedikit membantu mengurangi rasa maluku. Akupun melanjutkan jalanku dengan kepala yang memandang fokus kearah Bapakku tanpa ada niat untuk menoleh kearah kanan dimana dia tengah duduk. Untung saja diruang tamu ini masih minim cahaya meskipun sudah diterangi oleh dua senter hanphone jadi dia tidak bisa melihatku dengan jelas. tapu akupun tidak bisa melihatnya juga. huh nasib memang.
Setelah meminjam hanphone akupun melanjutkan membuat minuman dan saat aku meuang air teh yang beruap itu kedalam masing-masing gelas, akupun teringat tidak sekalian membeli camilan, untung saja kakak perempuanku datang dan angsung saja ku mintai bantuan untuk membeli camilan itu. Dengan hati-hati aku menata gelas-gelas hangat itu diatas nampan besar agar dapat menampung tujuh gelas itu dan mengantarkannya ke ruang tamu. Aku bingung akan diletakkan dimana nampan ini karena meja itu ada di pojok. ya jala terakhir aku meletakkannya di meja pojok itu.
Prang...!! suara gelas beradu dengan meja yang terbuat dari kaca sehingga menimbulkan suara seperti gelas pecah mengagetkanku padahal aku belum meletakkannya dan tidak ada gelas dari nampan yang terjatuh saat aku mengangkat lagi nampan yang akan ku letakkan tadi, aku melihat gelas bekas minum kakakku tadi yang masih diatas meja tertidur karena tersenggol oleh nampan yang ingin kuletakkan tadi.
"Pak, tolong ambilkan gelas itu" kataku kepada bapak agar mengambil gelas itu karena tanganku sediri masih penuh dengan nampan. setelah diambil akupun menaruh nampan tersebut kemeja dan mengambil gelas bekas itu dari tangan bapakku.
"Apa ada yang pecah?" tanya suara yang menyela saat aku hendak kembali kebelakang membuatku menelan ludah.
"Tidak" kataku sigkat tanpa menengok setelah menenangkan hatiku yang berdegub, meski suara yang ku keluarkan sedikit serak akibat pilek yang kupunya. setelah menjawab akupun langsug menuju ke arah dapur untuk meletakkan gelas bekas tadi ke sumur. Setelah itu akupun kembali lagi kedepan untuk menggelar karpet karena sofa yang tidak memadai untuk menampung mereka semua karena kakakku yang masih sibuk menata camilan kedalam toples. Jujur saja aku risih dan kurang percaya diri karena ketidak sempurnaanku dengan sangat terpaksa harus terpampang menghadap kearah lelaki itu dan membiarkannya menilai wajahku yang tidak lagi mulus dan cantik seperti dulu. saat itu ingin saja aku bergelung dibawah selimut ksurku dan membenamkan wajahku yang banyak bekas jerawat yang memerah karena obat dokter. Apupun berusaha beracting tenang meskipun banyak spekulasi berkeliaran di otakku mengenai penilaiannya terhadapku. Apakah dia jijik atau bagaimana, entahlah.. hanya saja aku meerasa penilaiannya begitu pentig. tapi aku berusaha menepis itu semua karena aku tidak mengenalnya dan aku tidak dapat melihat bagaimana rupanya.
Ingin sekali aku melihat bagaimana dia tetapi hatiku selalu mengingatkan " Hus isma, jaga matamu. katanya mau berubah?" yah begitulah hatiku meledek tingkahku dan aku luluh akan itu. Dan ya, aku harus istiqomah.
Setelah selesai menata karpet akupun langsung bergelung dengan selimut dan bantalku seperti apa yang kupikirkan tadi.
Saat aku tersadar bahwa suara-suara perbincangan melemah akupun langsung keluar kamar dan mendapati mereka telah bersiap-siap akan pulang, bahkan ibu yang tadipun sudah dinaikkan ke dalam mobil. Betapa aku menghayati lamunanku hingga tidak menyadari mereka telah menghilang dari ruang ramu rumahku. Saat aku keluar dari dalam rumah dan bergabung dengan ibu, bapak dan kakakku di teras rumah, aku melihatnya sudah duduk manis di depan kemudi. Akupun diam-diam merutuki diriku yang membuang kesempatan untuk menatap bagaimana dirinya dan jujur aku menyesali itu, namu hatiku berkata dan mengingatkanku dengan komitmenku mengenai cinta, harapan, dan komitmen. Diapun mulai melajukan kuda besinya meninggalkan beranda rumahku dan entah mengapa aku pandanganku tak henti memandangnya hingga mobil itu hiang dibalik gapura gang rumahku. Akupun merasakan bibir ini melengkungkan sebuah senyuman tipis dan entah darimana hatiku berkata "semoga ada pertemuan lain untuk kita". Dan harapan itupun masih menghinggap setelah delapan hari dari perpisahan itu, meskipun aku tidak tahu bagaimana dia dan bagaimana suaranya. Apakah aku akan mengenalinya saat pertemuan itu terulang kembali. Atau bahkan aku pernah bertemu lagi dengannya tanpa ku ketahui?. Astaghfirullah Hal Adzim... hilangkanlah perasangka itu dari hatiku ya Allah agar tidak menghambat kelangsungan hidupku dan merusak janjiku padaMu untuk merasakan perasaan yang halal.
Jika Engkau menghendaki pertemuan itu kembali, pertemukanlah aku melalui jalan yang Engkau Ridhai.. Amiinn
Minggu, 14 Februari 2016
edisi curhat author... hehe :D
Terkadang ingin sekali aku memiliki seseorang yang dapat
menjadi sandaranku, menjadi pengingatku dan menjadi penghalangku. Apapun itu
dan seperti apapun dia. Aku begitu mengharapkan sosoknya. Mungkin seorang
saudra, ataupun seorang sahabat yang berakhlak luhur dan berbudi pekerti serta
menjunjung tinggi agamanya diatas egonya. Yang berwawasan luas tanpa
meninggalkan imannya, yang berpikir kedepan dengan bertumpu pada hati yang
berpegang teguh pada Allah (Tuhannya). Seseorang yang selalu tak pernah lelah
menasehatiku untuk selalu berada pada jalan-Nya. Memberiku petunjuk ketika hati
dan pikiranku bertolak belakang serta menjadi penghalangku ketika aku akan
berbelok.
Seperti ingin menangis saat kutulis semua keinginanku atas
seseorang itu. tak perlu banyak, satupun sangat cukup ya Allah. Aku tahu bahwa Kau Maha mengetahui perasaan
hambamu. Satu keinginanku, berilah hambamu ini seorang sahabat yang kau ridhoi
untuk dapat membimbingku ke jalan yang lebih baik. Sat aku berdoa seperti itu,
bukan berarti aku tidak memiliki seorang teman maupun saudara ataupun seorang
sahabat. Aku memiliki semua itu namun aku tak yakin karena sebagian dari mereka
selalu terlihat selalu mementingkan dunia apalagi mengenai masalah cinta.
Tak bisa kupungkiri juga bahwa aku pula memikirkan nasib
asmaraku. Tak dapat kupungkiri juga bahwa aku menginginkan memiliki seorang
kekasih. Namun, sisi lain diriku enggan untuk memiliki kekasih karena aku
begitu menginginkan seorang kekasih itu adalah imamku, halalku. Itulah pemikiranku
yang tak sedikit orang menertawakan mimpiku untuk tidak berpacaran melainkan
untuk berta’aruf. Apakah miimpiku salah? Sehingga mereka berpikir dan
mengeluarkan opsi dan opini mereka bahwa mimpiku itu aneh dan sulit untuk
menjalani satu hubungan tanpa mengetahui bagaimana pasanganku. Tapi hei..!! tak
pernakah mereka berpikir bahwa ta’aruf itu menyenangkan. Bahwa kita akan
mengetahui mana ikhwan yang benar-benar serius atau tidak terhadap kita. Dan
bahkan banyak yang berhasil melahirkan suatu keluarga yang sakinah mawadah
warahmah. Selain itu juga kita dapat terhalang dari yang namanya dosa.
Tetap saja ada tapi-nya. Mereka menganggapku aneh dengan
prinsip yang saat ini ku pegang. Mereka tak sejalan denganku. Aku ingin menjadi
seorang akhwat yang lebih baik, mengerti dan memahami serta dapat mengamalkan
agama dengan baik. Untuk itulah aku berdoa kepada Allah Tuhanku untuk
mengirimkan seseorang yang dapat membimbingku menuju jalan-Nya tanpa merasa
lelah terhadapku.
Semoga Engkau mendengar do’aku ya Allah... Amiin...
Jumat, 11 Desember 2015
Pesimis
Tiada kata yang ingin ku buat
Tiada kalimat yang ingin ku rangkai
Tiada paragraf yang ingn ku susun
Karena semuanya terasa sama
Aku selalu menggali dan menggali lagi
Dan aku menemukannya
Berpikir mengembangkannya
Dan akhirnya apa yang aku dapat?
Hanya hasil yang berujungkan tumpukan hasil tak teerpakai
Aku terlalu pesimis??
Dan kalian benar..
Hah... aku??
Tak berarti apapun
Seolah dipermainkan
Saat optimis datang, dunia menentang
Lalu, apa yang dapat ku perbuat?
Berpikir dan berpikirkah?
Jika itu jawabannya
Apa mungkin umur masih cukup untuk diperpanjang?
Ku kira, aku akan hidup hanya untuk memikirkannya
Menyedihkan?
Itulah aku.............
What i have to do
Dear,
LoveHeart
Langganan:
Komentar (Atom)